Dedikasi Luar Biasa Jamartin Sihite untuk Kehidupan Orangutan Kalimantan (2)

Selama menjabat CEO Yayasan BOS, Jamartin pernah mengalami stroke. Nyaris lumpuh dan tidak bisa bicara. “Saya berusaha sembuh dengan semangat keluarga, terutama istri dan anak-anak. Saya sembuh dan artinya Tuhan masih percaya saya mengurus orangutan,” ungkapnya.

5DETIK – Setelah sembuh total, Jamartin kembali menyusuri hutan jalan kaki. Dia juga kerap ikut melakukan pelepasliaran orangutan.

“Impian saya, semua kandang di BOSF kosong dan kita hancurkan. Saya mau semua penghuninya bebas di alam liar. Karena rumah orangutan yang hutan, bukan kandang di pusat penyelamatan,” katanya.

Saat ini, BOSF mengalami krisis pasca-pandemi COVID-19. Jamartin pernah memutuskan menjual aset jika kebutuhan orangutan tidak tercukupi. Dia bahkan menutup sementara pusat rehabilitasi orangutan BOSF satu tahun dari pihak luar. Alasannya, jangan ada orangutan tertular corona dari manusia.

Penjagaan super ketat juga dilakukan di dalam pusat rehabilitasi. Semua perawat orangutan wajib steril dan harus memeriksakan suhu tubuh setiap akan bersentuhan dengan orangutan. Jika ada pekerja yang sakit flu, diwajibkan istirahat di rumah sampai dinyatakan benar-benar sembuh.

“BOSF mengurus lebih 425 orangutan di 2 pusat rehabilitasi. Kemiripan DNA orangutan dengan manusia sekitar 97% membuat orangutan rentan terinfeksi virus corona. Kami tetap berjuang untuk orangutan dan tidak meninggalkan mereka. Karena itu, mencegah lebih baik ketimbang mengobati,” katanya.

Hutan menipis

Sebelum memutuskan bergabung BOSF, Jamartin lebih dulu berada di Pulau Komodo. Fokus menjaga Komodo. Dia juga pernah bergabung bersama The Nature Conservancy [TNC]. Puluhan tahun lalu lalang di dunia konservasi, hati Jamartin pun tertambat pada orangutan, meski kejadiannya tidak sengaja.

“Waktu itu saya gendong bayi orangutan yatim piatu di Sumatera. Tidak sengaja, kami bertatapan mata, hati saya langsung meringis. Seperti apa satwa ini jika dilepas sendirian ke hutan? Bagaimana dia bisa bertahan melawan pemangsa. Nyaris saya menangis, kemudian saya berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk dia.”

Tak berselang lama, Jamartin mendapat tawaran memegang kemudi BOSF. Tak banyak alasan, Jamartin langsung mengambil kesempatan itu dan berkantor di Bogor, terhitung Oktober 2010. Di luar dugaan, menjadi CEO ternyata tidak semudah yang dibayangkan orang. Pertama, ia harus memikirkan yayasan dahulu untuk selanjutnya mencari hutan yang bisa dijadikan lokasi pelepasliaran.

Pelepasliaran juga tidak berjalan lancar. Jamartin harus melihat kenyataan, di Kalimantan Timur sudah tidak ada hutan gratis untuk melepasliarkan orangutan. Dia harus menyewa berhektar hutan.

Beragam cara dan upaya dia tempuh untuk mendapatkan uang. Dia bahkan harus terbang ke luar negeri untuk meyakinkan setiap orang bahwa nasib orangutan di Kalimantan nyaris punah. Beruntung, ada yang membantu, jadi donor.

“Semula memang sangat berat, tapi kami kerjakan satu-satu. Saya berpesan pada semua teman-teman di BOSF, kita pelan-pelan saja, yang penting usaha dan doa. Setelahnya Tuhan yang atur. Terbukti, kami bisa menyewa satu hutan di pedalaman Kutai Timur, Kalimantan Timur,” ungkapnya.

Hutan tersebut diberi nama Kehje Sewen, seluas 86.450 hektar. Izinnya di tangan PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia [RHOI], perusahaan yang memperoleh Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu melalui Restorasi Ekosistem, sejak 21 April 2009. Hutan ini berhak digunakan sebagai area pelepasliaran orangutan selama 60 tahun.

Tidak berhenti sampai di situ, ternyata tidak semua sisi hutan Kehje Sewen dapat dijadikan habitat orangutan. Masalah lain, orangutan di kandang masih banyak. Luasan Kehje Sewen masih kurang. “Kami butuh hutan lagi. Satu orangutan memerlukan 200 hektar untuk bertahan hidup,” terang lelaki bergelar PhD [2004] bidang Environmental Sciences, IPB. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button