Kisah Perjuangan Guru di Pelosok Kalimantan Utara Cegah Learning Loss (2-Habis)

5DETIKBoleh diceritakan bagaimana proses belajar mengajar di daerah selama pandemi?
Mungkin bagaimana proses belajar-mengajar kami usahakan yang laring. Karena sinyal itu susah ya, kami pakai dua cara untuk anak-anak yang nggak bisa by online, pakai HP atau WhatsApp, kami lakukan guru kunjung dan memberikan bahan cetak. Bahan cetaknya jadi bisa saya yang mengunjungi atau orang tua yang ambil ke sekolah.

Kesulitan yang dialami selama proses belajar-mengajar saat pandemi seperti apa?
Kalau jarak, saya kan tinggal di desa, dan kalau anak ada yang tinggal di perusahaan itu saya harus melewati jalan jauh di kelilingi hutan sawit. Tapi mereka pun kalau ke sekolah sama, juga harus melewati jalan itu. Tetapi, kesulitan yang alami selama masa pandemi itu, tidak dapat bertemu siswa, sulit menjangkau seluruh siswa karena jarak rumah berjauhan, keterbatasan HP dan internet, dan tidak semua orang tua dapat membimbing siswa belajar di rumah atau menerbitkan jadwal siswa untuk belajar karena kebanyakan orang tua bekerja.

Apa yang Bu Dini lakukan untuk meminimalisir risiko learning loss pada peserta didik?
Learning loss jadi hal yang paling saya takuti, apalagi ini sangat sulit untuk mengajar anak-anak. Dan ini kan kelas awal, bukan hal yang mudah apalagi bukan tatap muka dan kondisinya bukan seperti di kota, kalau kelas 1 sudah bisa membaca. Kalau anak di desa dari 0, jadi saya mikir kaya apa ngajar, gimana ngajar anak ini? Jadi ini tidak bisa tanpa pertemuan. Akhirnya, saya petakan mana siswa yang tidak bisa belajar sendiri. Jadi lihat kesulitan belajarnya apa, dan saya lihat prosesnya anak-anak ini bagaimana, ya ternyata sulit dan saat saya petakan murid yang jumlahnya 27 orang. Ini kan banyak untuk saya kunjungi tiap hari. Jadi saya petakan mana yang butuh keberadaan saya. Kalau orang tua tidak bisa mendampingi anak belajar, maka saya kunjungi agak banyak waktunya. Jadi semua memang punya jadwal yang beda-beda.

1. Melakukan pemetaan keadaan psikososial peserta didik sebelum semester dimulai dengan mendata ketersediaan HP dan ketersediaan bimbingan orang tua

2. Melakukan Asesmen Formatif membaca kelas awal (memetakan siswa pada kemampuan Mengenal huruf/suku kata/membaca lancar/membaca pemahaman)

3. Merancang program belajar dari dua pemetaan di atas, seperti memetakan siapa yang perlu dikunjungi lebih banyak, apa materi yang dibutuhkan masing-masing siswa atau kelompok tersebut

4. Menyediakan bahan ajar berupa LAS yang sesuai kebutuhan siswa (sesuai hasil penilaian Formatif membacanya) dan Kurikulum Khusus yang sudah diterbitkan Kemendikbud

5. Meminjamkan buku bacaan sekolah kepada siswa setiap minggu

6. Mengevaluasi lagi hasil penerapan program belajar per dua atau tiga bulan

7. Selalu komunikasi dengan orang tua terkait proses belajar maupun perkembangan siswa.

Seperti apa cara memetakan kemampuan para peserta didik?
Pada siswa kelas 1, saya punya bahan yang berbeda-beda. Untuk anak-anak yang sudah kenal huruf, mau lancar membaca, dan sudah lancar membaca. Jadi itu cara saya kasih tiga materi ini kalau belum bisa ini.

Pemetaan kemampuan membaca:

1. Buat jadwal untuk semua siswa secara bergiliran bukan serentak (komunikasikan akan bertemu di sekolah atau dirumah)
2. Siapkan instrumen penilaian Formatif membaca
3. Laksanakan sesuai jadwal, rekap hasilnya, lalu tindak lanjuti hasil

Pemetaan keadaan Psiko sosial siswa:

1. Bertanya langsung kepada org tua siswa tentang informasi yang diperlukan guru seperti alamat, ketersedian hp dan jaringan telepon atau internet. Serta ngobrol atau menanyakan langsung siapa yang biasa mendampingi siswa belajar dirumah, apakah ada?

Contoh hasil pemetaan kemampuan seperti apa Bu?
Ada beberapa pengalaman ya kalau di lapangan, itu saya punya siswa karena kebetulan siswa ini saat mendaftar orang tuanya sudah kasih tahu kami tinggal di sini dan saat belajar itu, anak tertinggal. Dan dicari tahu bapaknya jualan bakso dan tinggal sama ibu saja, dan ibunya, mohon maaf nggak bisa membaca, jadi kayak gimana dong? Berarti ini sangat membutuhkan kehadiran saya di rumah. Kemudian, saya kerja sama dengan orang tua. Bersyukur orang tua sudah mau bekerja sama, jadi saya sama orang tua malah sharing sama mereka. Sharing dengan orang tua memang saya ingin mereka untuk mengerti, bukan soal hasil akhir, tetapi soal proses. Saya jelasin dia itu masuk di sini (kemampuan belajar) dan supaya cepat bisa latihannya kaya gini ya Bu.
Awal pandemi juga kami memang punya satu kebiasaan memberikan materi sesuai kebutuhan dan anak masuk kelas otomatis bahannya sudah ada. Dan saya ingat dilatih bahwa anak diberikan sesuai kebutuhannya, dan saat pandemi sekolah langsung tutup dan saya berpikir bagaimana anak-anak ini dengan keadaan ini diberikan sesuai kebutuhan, akhirnya membuat Lembar Aktivitas Siswa (LAS) yang dimodifikasi. Kemudian, saat kurikulum sudah keluar dan modul sudah keluar karena di daerah sulit mengunduh modulnya, jadi download lama. Akhirnya, kami harus memodifikasi modul tersebut, kami cetak sederhana, tapi tidak menghilangkan hal-hal penting di dalamnya.

Hasilnya seperti apa Bu?
Kaya siswa saya yang saya ceritakan, Mifta itu tadinya belum bisa dan di bulan apa saya tes lagi dan ternyata dia sudah bisa membaca dan pemahamannya dari awal itu mengenal huruf, serta membaca. Kalau dari awal saya samain materinya kepada peserta didik, mungkin siswa itu belum bisa membaca, saya pikir.
Dari awal, Juli 27 dengan kelompok Pramembaca 22 orang dan kelompok suku kata atau lancar membaca 4 orang serta kelompok membaca pemahaman 1 orang, saat ini per Maret, hasilnya kelompok pramembaca berkurang menjadi hanya 10 orang, kelompok membaca lancar bertambah menjadi 10 orang, dan kelompok membaca pemahaman bertambah menjadi 6 orang.

Selain pemetaan dan modifikasi LAS apalagi yang dilakukan demi cegah learning loss Bu?
Jadi waktu pandemi kami sudah berkomitmen menjaga budaya literasi dan kami usahakan mendapatkan atau meminjamkan buku bacaan anak-anak. Jadi kami pinjamkan, dan akhir tahun kemarin sudah bisa nambah buku baru.
Buku dipinjamkan kepada anak-anak 2-3 setiap minggunya, mereka sendiri yang pilih, suka. Kalau kunjungan juga saya bawa buku untuk mereka pilih dan orang tua juga bisa ke sekolah. Kalau di kami, anak-anak suka membaca dan belum ‘tercemar’ smartphone dan gadget. Kalau kegiatannya lebih asik jadi hal positif berada di desa karena suka membaca.

Harapan dengan adanya opsi belajar tatap muka seperti apa?
Di daerah kamu sudah diinformasikan nanti tatap muka, dan kami di satu sisi sudah baik karena saat mengajar tanpa tatap muka ini sulit. Dan ini hal yang bagus, dan sisi lain ini perlu menjaga anak-anak siap sedia untuk segala situasi.
Guru-guru Senin kemarin sudah vaksinasi tahap 1 dan sebelum vaksin dari dinas pendidikan bulan kemarin sudah menyiapkan, diinformasikan SOP bagaimana, koordinasi dengan puskesmas, dan kesiapan sekolah, dia cek, dan tanya transportasi siswa dan memberitahu, membuka sekolah jadi dinas pendidikan ada koordinasi dengan dinas kesehatan setempat untuk membantu tatap muka. Harapannya, supaya kami saat pertemuan bisa ikut kegiatan mitigasi learning loss dan dinas pendidikan kami juga ikut dan diinformasikan risiko learning loss. jadi harus siap-siap dan harus memetakan dan dinas pendidikan ngasih pelatihan ke guru untuk bisa memetakan kondisi pasca pandemi, mudah-mudahan bisa. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button